Naskah Teater Anak Mata Kucing
Mata Kucing
Karya : rodli tl
Sinopsis
Adalah tentang permainan tardisi yang sering kali dimainkan anak-anak di pelataran pada malam bulan purnama. Awalnya mereka bermain dengan suka ria, namun kemudian salah satu dari mereka ada yang tidak sportif dalam permainan. Sasa lebih memilih tidur daripada mencari teman-temanya yang sedang bersembunyi ketika bermain petak umpet.
Mega, anak perempuan yang paling besar kemudian marah-marah dan mengajak meninggalkan Sasa yang tidur sendirian di pelataran.
Sasa mengigau, dan teman-temanya menganggap ia kesurupan karena ketakutan. Kemudian Uzan, dan Rio menyalahkan Mega. Uzan dan Rio tidak mau bertanggungjawab pada apa yang sedang terjadi pada Sasa. Mereka pun mulai bertengkar saling menyalahkan, lempar batu sembunyi tangan.
Sedang Kiki anak terkecil lebih suka bermain dari pada mempedulikan pertengkaran teman-temanya.
Setting
Di pelataran rumah kampung pada malam bulan purnama
Tokoh
Mega, anak perempuan yang paling besar. Sedikit terlihat jiwa kepemimpinannya. Pemikiranya agak mulai dewasa.
Sasa, anak perempuan yang suka membuat masalah. Seringkali tidak mau sportif dalam permainan.
Uzan, anak laki-laki yang sifatnya kadang egois. Ia tidak mau dipersalahkan.
Rio, anak laki-laki yang tidak punya pendirian. Selalu ikut apa kata Uzan.
Kiki, anak perempuan terkecil yang masih lugu.
Mata Kucing
Karya : rodli tl
Anak-anak bermain di pelataran. Mereka bermain “Pung-Pung Balung” kemudian menyusun semua telapak tangan. Masing-masing menggengem tiap jari jempol milik temannya dengan bernyanyi “Pung-Pung Balung”
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar
Telapak tangan yang paling bawah terbuka di setiap akhir nyanyian. Kemudian mereka melanjutkan nyanyiannya dengan nyanyian “Yek Uyek Ranti”, sambil mengunyek punggung tangan, mereka bernyanyi
Yek-uyek ranti
Ono bebek pinggir kali
Nothol pari sak uli
Ditangisi mrebes mili
Serontang seranting
Ono bajing nyolong gunting
Guntinge mbok petoro
Uleno nang ngabean
Golekno payung abang
Abang-bang seronce
Sedelek ceplis
Pada setiap akhir lagu, salah satu anak mengangkat setiap telapak tangan ke kepala pemiliknya. Dan pada akhirnya masing-masing mengangkat kedua tangan, seakan memanggul keranjang di atas kepala. Salah satu diantara mereka kemudian menanyakan isi keranjang tersebut.
Mega : Kalian semua sedang membawa apa?
Anak-Anak : Membawa keranjang berisi hewan
Mega : Coba turunkan, saya ingin tahu
Anak-anak menurunkan isi keranjang sambil bersuara seakan suara hewan yang ada dalam keranjang. Lalu mereka memainkan menjadi hewan. Kemudian mereka adu kekuatan dengan suara-suara.
Uzan : (bersuara menjadi kambing)
Kiki : (bersuara menjadi burung)
Sasa : (bersuara menjadi kucing)
Rio : (bersuara menjadi ayam)
Mega : (bersuara menjadi tikus)
Suara hewan-hewan bersahutan seakan di margasatwa. Suaranya menjadi nyanyian. Kadang-kadang merdu. Kadang-kadang menakutkan.
“embek-embek cicit-cuit cicit-cuit meong-meong pethok-pethok cit-cit uwiing”
Uzan : Aku berbadan besar. Akulah kambing, merumput pada
pematang sawah
Kiki : Aku si kecil tapi cantik. Aku terbang, dan hinggap pada
pepohonan
Sasa : Akulah si manis. namun bertaring. Aku suka makan
daging
Rio : Akulah si ayam. Suka memakan biji-bijian
Mega : Aku si tikus. tapi aku adalah si tikus putih yang cantik
dan tidak menjijikkan
Heni : Akulah si nyamuk, centil, dan suka menggigit mereka
yang malas bersih-bersih
Mereka berlari sambil meneriakkan tentang binatang yang dianggap mengganggu hidupnya.
Burung hinggap dan mematuk-matuk tubuh kambing
Fauzan : Aduh, tubuhku sakit. Tubuhku dipathok burung
Tikus mengejar burung
Kiki : Takut, aku dikejar-kejar tikus
Kambing menyeruduk kucing
Sasa : Waduh bahaya, ada si kambing bertanduk. Ia suka
Menyeruduk
Tikus merebut makanan ayam
Rio : Dasar si tikus. Selalu saja menggangguku. Ia merebut
Makananku
Nyamuk merasa aman. Ia leluasa terbang kesana-kemari
Heni : Uwiing, nyamuk tidak takut apapun, karena hidupnya
nyamuk pada malam gelap-gulita, nyamuk juga tidak takut
pada hantu, uwiiing………
Anak-anak berlarian, mereka seakan dikejar puluhan nyamuk
Anak-anak : (bernyanyi)
Banyak nyamuk digigit sakit
Aduh aduh, nyamuknya nakal
Anak-anak berlarian sambil mengibas tangannya, mereka terus bernyanyi sambil melakukan gerakan tari. Lama-lama mereka kelihatan lelah. Pelan-pelan tertidur.
Heni : Wah, mereka kok tidur semua ya, kalau begitu nyamuk
juga mau tidur. Nyamuknya ngantuk. Nyamuknya tidur,
uwiiiing…
Semua tertidur pulas, dengkuran mereka bersahut-sahutan.
Tak lama kemudian Sasa yang memerankan sebagai kucing bangun. Bergerak mengaum.
Sasa : Meong, meooong…..
Mega yang menjadi tikus itu bangun dengan ketakutan. Layaknya seekor tikus yang mau diterkam oleh seekor kucing
Mega : Mata kucing, mata kucing itu seakan mau menerkamku.
Satu persatu anak-anak terjaga dari tidurnya dengan rasa takut. Pelan-pelan mereka berkumpul bergerak menjauhi si kucing. Mereka bergerak dengan nyanyian.
“mata kucing, mata kucing, seakan menerkamku”
Mega : Ayo kita bersembunyi!
Anak-anak : Ayo….
Sambil menyuarakan suara binatang, anak-anak bersembunyi, sedang Sasa harus menutup matannya sambil bernyanyi meminta bantuan setan gundul untuk menemukan persembunyian teman-temannya.
Sasa : (bernyanyi)
Setan gundul temokno koncoku,
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu
Kiki : Belum (belum menemukan tempat persembunyian)
Rio : Aku juga belum, aku masih mencari tempat
persembunyian
Mega : Cuit
Uzan : Cuit
Sasa terus bernyanyi sedang teman-teman lain bercicit-cuit, seperti memainkan musik iringi nyanyian Sasa.
Anak-anak yang bersembunyi terus bercicit-cuit untuk mengeco Sasa. Sedang Sasa bergerak kebingungan sampai ia ketiduran. Suara cicit-cuit terus mencericit. Lama kemudian Sasa berhenti mencari dan kembali tidur.
Mega : Sssst, sepertinya ada yang tidak beres.
Uzan : Kenapa Mega?
Mega : Coba kamu lihat Sasa, si anak kentongan itu. Dia pura-
pura tidur, dia tidak mau mencari kita.
Kiki : Hi Sasa, tidak boleh nakalan begitu!
Rio : Iya, tidak boleh cepat menyerah. kalau nakalan seperti itu
permaianan kita tidak seru.
Mega : Aku punya ide.
Heni : Ide apa itu?
Mega : Anak yang nakal, yang tidak sportif dalam permainan kita
nakali juga.
Uzan : Maksud Mega?
Mega : Kita tinggal saja dia, biar dia tidur di sini sendirian, biar
digondol setan gundul.
Rio : Ya, aku setuju.
Anak-anak mulai meninggalkan arena permainan dengan melantunkan tembang dolanannya.
Setan gundul gondolen Sasa
Setan gundul gondolen Sasa
Uzan : Stop, sepertinya kali ini Sasa tidak pura-pura tidur. ia
benar-benar tertidur.
Kiki : Ya, Sasa kan biasanya penakut. Tapi hari ini dia tidak
takut.
Rio : Pasti dia tidur sungguhan. Andaikata ia tidur-tiduran, ia
pasti bangun dan mengejar kita. Ia pasti takut sendirian.
Kiki : Kita klitiki aja dia, pasti ketahuan, apakah dia benar-benar
tidur Atau pura-pura!
Mereka berempat jalan mengendap-endap sambil membawa setangkai sapu lidi. Mereka gunakan untuk mengkelitiki telingah Sasa
Sasa terbangun, tapi ia seperti orang yang sedang ngigau. Ia duduk, berdiri dan berjalan sambil mulutnya nggedumbel.
Setan gundul, temokno koncoku
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu.
Sasa terus berjalan dengan mengucapkan beberapa kalimat setan gundul tersebut.
Rio : Wah bahaya, dia kerasukan setan
Mega : Maksud kamu keserupan?
Kiki : (Menangis karena ketakutan) Sasa kesurupan ya? Mae,
mae, aku takut………..
Sasa kemudian kembali lagi ke tempat semula dan terus bergumam memanggil-manggil setan gundul.
Uzan : Mega, bagaimana ini semua tejadi? Ini semua gara-gara
kamu.
Rio : Ya, ini gara-gara kamu. Sasa kesurupan dan kiki menangis
ketakutan
Mega : Apa, gara-gara aku. ini salah Sasa sendiri. Enak-enak
main kok dia malah tidur.
Uzan : Tapi kenapa kamu ajak kita untuk meninggalkan dia tidur
sendiri di sini?
Mega : Biar dia kapok. Lagian dia gak sportif. Waktunya jadi dia
malah tiduran. Tidak mau mencari. Apa kemudian kita
biarkan saja dia, sambil kita menunggu digigiti nyamuk.
Rio : Pokoknya, kamu harus bertanggungjawab. Kalau
ayahnya marah, aku tidak ikut-ikut
Uzan : Ya, kamu sendiri yang salah. Bukan kita.
Mega : Hai, kalian nyrocos saja, chicken you are! Pengecut kau!
Mereka terus berdebat. Sedang Kiki terus menangis dan Sasa sudah tidak ngomel lagi. Ia kembali tidur sambil mendengkur.
Uzan dan Rio terus tidak mau kalah. Ia terus menyalahkan Mega. Mereka mengolok-olok mega dengan nyanyian.
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau!
Don”t be chicken, jangan jadi pengecut kau!
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa”
Mega : Stop
DENGAN TERLIHAT MARAH, MEGA MEMBENTAK MEREKA. SPONTAN NYANYIANNYA BERHENTI
Mega : Teman, jangan lempar batu sembunyi tangan, ini masalah
kita bersama, seharusnya kita hadapi dengan kesatria.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Uzan : Ayahnya datang!
MEREKA BERLARIAN MENGISIS RUANG KOSONG DAN SALING BERTABRAKAN. MEREKA MENGADU KESAKITAN
Mega : Rasakan kalian pengecut. Itu adalah batunya orang yang
lempar sembunyi tangan.
Sasa tiba-tiba terbangun dan menceritakan mimpinya.
Sasa : Aku tadi tidur ya? Aku bermimpi bertemu dengan setan
gundul. Setan gundul itu lucu sekali. (mengamati
temannya yang kesakitan) Kenapa kalian mengerang
kesakitan? Jatuh karena lari ya. Kenapa, takut sama setan
gundul. Setan gundul alias tuyul itu imut, lucu.
Uzan : Hai, kucing, ini semua gara-gara kamu. Kamu merasa
bersalah tidak ?
Sasa : Apa salah saya?
Rio : Hai, kamu tadi tidur apa kesurupan?
Sasa : Yang jalas aku bermimpi bertemu dengan setan gundul
yang imut.
Uzan : Kamu sekarang sudah sadar belum? Jangan-jangan masih
mengigau
Mega : Ayo kita jiwiti dia
MEREKA BERSAMA-SAMA MENJIWIT SASA. SASA MENGERANG KESAKITAN
Mega : Ternyata dia sudah sadar. Tidak ngigau lagi
Rio : Jangan-jangan dia masih kesurupan
TIBA-TIBA SASA MENANGIS KARENA KESAKITAN
Kiki : Hayo hayo si Sasa menangis
Sasa mengerang menangis kesakitan. Mereka berdebat saling menyalahkan lagi.
Uzan dan Rio : Aduh, Mega lagi Mega lagi
Rio : Mega, kenapa kau selalu membuat ulah.
Uzan : Ya, tangan kamu banyak setannya. Selalu membuat
masalah.
Mega : Hai, dasar kalian otak keyong, kenapa kalian selalu
menyalahkan aku?
Rio : Siapa lagi kalau bukan kamu
Mega : Apa yang mencubit sasa tadi tangan saya sendiri?
Ucan : Tapi, kamu yang mengajak kan?
Mega : Dan kalian ikut kan?
Mereka kaembali berdebat sambil bernyanyi
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau
Don”t be chicken, jangan pengecut kau
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : Stop, berhentiii! Aku muak dengan kepengecutan kalian!
Kiki : (berdiri) Kenapa orang besar sukanya bertengkar. Selalu
saja beranggapan dia yang paling benar. Kapan waktunya
untuk bermain, bersendah-gurau
Uzan : Kiki, diam sebentar!
Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
Uzan : Hai hai hai, sekali lagi diam!
Kiki : Apa semua masalah harus diselesaikan dengan
pertengkaran?
95. Rio : Kiki, diam, jangan banyak bicara!
96. Mega : Hai teman, dia punya hak untuk bicara
97. Uzan : Tapi dia masih kecil
98. Mega : Apa kalian sudah besar?
99. Rio : Tapi paling tidak kita lebih besar darinya.
100. Mega : Tetapi bisa jadi dia lebih pantas bicara dari pada kalian.
Kiki bergerak menjauh dari perdebatan. Ia mencari tempat untuk menyendiri. Dan bernyanyi sendiri.
101. Kiki : (bernyanyi)
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar
Sasa kemudian datang menghampirinya.
102. Sasa : Kiki, kenapa kamu bermain sendirian?
103. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
104. Sasa : Oh, jadi kamu bermain sendiri, karena yang lain pada suka
bertengkar. Kenapa mereka bertengkar?
105. Kiki : Ini gara-gara kamu.
106. Sasa : Ha, gara-gara aku, apa ya salah aku?(bingung) mereka
bertengkar gara-gara aku. Kiki, aku jadi bingung. Kiki,
apa salah aku?
107. Kiki : Cari sendiri!
108. Sasa : Ayo dong kiki, apa salah aku?
109. Kiki : Orang baik itu tahu kesalahan dan kekurangannya sendiri.
Lalu ia berusaha memperbaikinya.
Bertemu kembali dan meneruskan perdebatan
110. Mega : Sekarang ayo kita akhiri perdebatan kita.
111. Uzan : Tidak mau sebelum kamu mengaku bersalah
112. Mega : Apa, aku yang salah. Justru kalian yang bersalah
113. Rio : Hai hai hai… yang tadi mengajak untuk meninggalkan
Sasa itu siapa?
114. Mega : Kalian juga mendukung kan?
115. Uzan : Yang tadi mengajak untuk menjiwit Sasa siapa?
116. Mega : Kalian juga mendukung kan, ayo, masih menyalahkan
orang lain, masih tidak merasa bersalah, tetap lempar batu
sembunyi tangan!?
Mereka terus berdebat. Saling menyalahkan dan tidak mau saling mengakui kesalahannya.
117. Sasa : Oh oh oh… sekarang aku tahu kesalahanku. Ini semua
gara-gara aku. aku tidak sportif dalam permainan. Satu
keselahan kecil, akan menciptakan kesalahan-kesalahan
yang lebih besar. Aku baru sadar, perbuatan yang tidak
baik itu pasti membuat orang lain menjadi menderita.
Sasa kemudian berlarian meminta maaf pada teman-temannya.
118. Sasa : Minta maaf, minta maaf, minta maaf ya, aku minta
maaf….
119. Uzan : Hai diam. Kenapa kau berteriak-teriak?
120. Sasa : Minta maaf!
121. Rio : Kenapa meminta maaf?
122. Sasa : Aku bersalah
123. Uzan : Lihat Mega, Sasa saja mau minta maaf, lalu kamu
bagaimana? Kamu mau meminta maaf tidak?
124. Mega : Kamu sendiri bagaimana?
125. Uzan : Aku tidak bersalah, kenapa harus minta maaf
126. Rio : Ya, kita tidak bersalah, kita tidak perlu minta maaf
127. Mega : Dasar kepala batu, maunya yang paling benar.
128. Sasa : Orang-orang yang merasa dirinya sudah besar, mereka
selalu dirinya yang paling benar, padahal padahal mereka
adalah…… (berlari menggandeng tangan Kiki) Kiki Kiki
ayo kita bermain…
Sasa dan Kiki kembali bermain pung-pung balung. Sedang yang lain masih bertengkar, tidak mau damai. Kiki dan Sasa terus asyik bernyanyi. Mereka melanjutkan dengan nyanyian yek-uyrk ranti. Bergerak megal-megol seperti bebek.
TAMAT
Karya : rodli tl
Sinopsis
Adalah tentang permainan tardisi yang sering kali dimainkan anak-anak di pelataran pada malam bulan purnama. Awalnya mereka bermain dengan suka ria, namun kemudian salah satu dari mereka ada yang tidak sportif dalam permainan. Sasa lebih memilih tidur daripada mencari teman-temanya yang sedang bersembunyi ketika bermain petak umpet.
Mega, anak perempuan yang paling besar kemudian marah-marah dan mengajak meninggalkan Sasa yang tidur sendirian di pelataran.
Sasa mengigau, dan teman-temanya menganggap ia kesurupan karena ketakutan. Kemudian Uzan, dan Rio menyalahkan Mega. Uzan dan Rio tidak mau bertanggungjawab pada apa yang sedang terjadi pada Sasa. Mereka pun mulai bertengkar saling menyalahkan, lempar batu sembunyi tangan.
Sedang Kiki anak terkecil lebih suka bermain dari pada mempedulikan pertengkaran teman-temanya.
Setting
Di pelataran rumah kampung pada malam bulan purnama
Tokoh
Mega, anak perempuan yang paling besar. Sedikit terlihat jiwa kepemimpinannya. Pemikiranya agak mulai dewasa.
Sasa, anak perempuan yang suka membuat masalah. Seringkali tidak mau sportif dalam permainan.
Uzan, anak laki-laki yang sifatnya kadang egois. Ia tidak mau dipersalahkan.
Rio, anak laki-laki yang tidak punya pendirian. Selalu ikut apa kata Uzan.
Kiki, anak perempuan terkecil yang masih lugu.
Mata Kucing
Karya : rodli tl
Anak-anak bermain di pelataran. Mereka bermain “Pung-Pung Balung” kemudian menyusun semua telapak tangan. Masing-masing menggengem tiap jari jempol milik temannya dengan bernyanyi “Pung-Pung Balung”
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar
Telapak tangan yang paling bawah terbuka di setiap akhir nyanyian. Kemudian mereka melanjutkan nyanyiannya dengan nyanyian “Yek Uyek Ranti”, sambil mengunyek punggung tangan, mereka bernyanyi
Yek-uyek ranti
Ono bebek pinggir kali
Nothol pari sak uli
Ditangisi mrebes mili
Serontang seranting
Ono bajing nyolong gunting
Guntinge mbok petoro
Uleno nang ngabean
Golekno payung abang
Abang-bang seronce
Sedelek ceplis
Pada setiap akhir lagu, salah satu anak mengangkat setiap telapak tangan ke kepala pemiliknya. Dan pada akhirnya masing-masing mengangkat kedua tangan, seakan memanggul keranjang di atas kepala. Salah satu diantara mereka kemudian menanyakan isi keranjang tersebut.
Mega : Kalian semua sedang membawa apa?
Anak-Anak : Membawa keranjang berisi hewan
Mega : Coba turunkan, saya ingin tahu
Anak-anak menurunkan isi keranjang sambil bersuara seakan suara hewan yang ada dalam keranjang. Lalu mereka memainkan menjadi hewan. Kemudian mereka adu kekuatan dengan suara-suara.
Uzan : (bersuara menjadi kambing)
Kiki : (bersuara menjadi burung)
Sasa : (bersuara menjadi kucing)
Rio : (bersuara menjadi ayam)
Mega : (bersuara menjadi tikus)
Suara hewan-hewan bersahutan seakan di margasatwa. Suaranya menjadi nyanyian. Kadang-kadang merdu. Kadang-kadang menakutkan.
“embek-embek cicit-cuit cicit-cuit meong-meong pethok-pethok cit-cit uwiing”
Uzan : Aku berbadan besar. Akulah kambing, merumput pada
pematang sawah
Kiki : Aku si kecil tapi cantik. Aku terbang, dan hinggap pada
pepohonan
Sasa : Akulah si manis. namun bertaring. Aku suka makan
daging
Rio : Akulah si ayam. Suka memakan biji-bijian
Mega : Aku si tikus. tapi aku adalah si tikus putih yang cantik
dan tidak menjijikkan
Heni : Akulah si nyamuk, centil, dan suka menggigit mereka
yang malas bersih-bersih
Mereka berlari sambil meneriakkan tentang binatang yang dianggap mengganggu hidupnya.
Burung hinggap dan mematuk-matuk tubuh kambing
Fauzan : Aduh, tubuhku sakit. Tubuhku dipathok burung
Tikus mengejar burung
Kiki : Takut, aku dikejar-kejar tikus
Kambing menyeruduk kucing
Sasa : Waduh bahaya, ada si kambing bertanduk. Ia suka
Menyeruduk
Tikus merebut makanan ayam
Rio : Dasar si tikus. Selalu saja menggangguku. Ia merebut
Makananku
Nyamuk merasa aman. Ia leluasa terbang kesana-kemari
Heni : Uwiing, nyamuk tidak takut apapun, karena hidupnya
nyamuk pada malam gelap-gulita, nyamuk juga tidak takut
pada hantu, uwiiing………
Anak-anak berlarian, mereka seakan dikejar puluhan nyamuk
Anak-anak : (bernyanyi)
Banyak nyamuk digigit sakit
Aduh aduh, nyamuknya nakal
Anak-anak berlarian sambil mengibas tangannya, mereka terus bernyanyi sambil melakukan gerakan tari. Lama-lama mereka kelihatan lelah. Pelan-pelan tertidur.
Heni : Wah, mereka kok tidur semua ya, kalau begitu nyamuk
juga mau tidur. Nyamuknya ngantuk. Nyamuknya tidur,
uwiiiing…
Semua tertidur pulas, dengkuran mereka bersahut-sahutan.
Tak lama kemudian Sasa yang memerankan sebagai kucing bangun. Bergerak mengaum.
Sasa : Meong, meooong…..
Mega yang menjadi tikus itu bangun dengan ketakutan. Layaknya seekor tikus yang mau diterkam oleh seekor kucing
Mega : Mata kucing, mata kucing itu seakan mau menerkamku.
Satu persatu anak-anak terjaga dari tidurnya dengan rasa takut. Pelan-pelan mereka berkumpul bergerak menjauhi si kucing. Mereka bergerak dengan nyanyian.
“mata kucing, mata kucing, seakan menerkamku”
Mega : Ayo kita bersembunyi!
Anak-anak : Ayo….
Sambil menyuarakan suara binatang, anak-anak bersembunyi, sedang Sasa harus menutup matannya sambil bernyanyi meminta bantuan setan gundul untuk menemukan persembunyian teman-temannya.
Sasa : (bernyanyi)
Setan gundul temokno koncoku,
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu
Kiki : Belum (belum menemukan tempat persembunyian)
Rio : Aku juga belum, aku masih mencari tempat
persembunyian
Mega : Cuit
Uzan : Cuit
Sasa terus bernyanyi sedang teman-teman lain bercicit-cuit, seperti memainkan musik iringi nyanyian Sasa.
Anak-anak yang bersembunyi terus bercicit-cuit untuk mengeco Sasa. Sedang Sasa bergerak kebingungan sampai ia ketiduran. Suara cicit-cuit terus mencericit. Lama kemudian Sasa berhenti mencari dan kembali tidur.
Mega : Sssst, sepertinya ada yang tidak beres.
Uzan : Kenapa Mega?
Mega : Coba kamu lihat Sasa, si anak kentongan itu. Dia pura-
pura tidur, dia tidak mau mencari kita.
Kiki : Hi Sasa, tidak boleh nakalan begitu!
Rio : Iya, tidak boleh cepat menyerah. kalau nakalan seperti itu
permaianan kita tidak seru.
Mega : Aku punya ide.
Heni : Ide apa itu?
Mega : Anak yang nakal, yang tidak sportif dalam permainan kita
nakali juga.
Uzan : Maksud Mega?
Mega : Kita tinggal saja dia, biar dia tidur di sini sendirian, biar
digondol setan gundul.
Rio : Ya, aku setuju.
Anak-anak mulai meninggalkan arena permainan dengan melantunkan tembang dolanannya.
Setan gundul gondolen Sasa
Setan gundul gondolen Sasa
Uzan : Stop, sepertinya kali ini Sasa tidak pura-pura tidur. ia
benar-benar tertidur.
Kiki : Ya, Sasa kan biasanya penakut. Tapi hari ini dia tidak
takut.
Rio : Pasti dia tidur sungguhan. Andaikata ia tidur-tiduran, ia
pasti bangun dan mengejar kita. Ia pasti takut sendirian.
Kiki : Kita klitiki aja dia, pasti ketahuan, apakah dia benar-benar
tidur Atau pura-pura!
Mereka berempat jalan mengendap-endap sambil membawa setangkai sapu lidi. Mereka gunakan untuk mengkelitiki telingah Sasa
Sasa terbangun, tapi ia seperti orang yang sedang ngigau. Ia duduk, berdiri dan berjalan sambil mulutnya nggedumbel.
Setan gundul, temokno koncoku
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu.
Sasa terus berjalan dengan mengucapkan beberapa kalimat setan gundul tersebut.
Rio : Wah bahaya, dia kerasukan setan
Mega : Maksud kamu keserupan?
Kiki : (Menangis karena ketakutan) Sasa kesurupan ya? Mae,
mae, aku takut………..
Sasa kemudian kembali lagi ke tempat semula dan terus bergumam memanggil-manggil setan gundul.
Uzan : Mega, bagaimana ini semua tejadi? Ini semua gara-gara
kamu.
Rio : Ya, ini gara-gara kamu. Sasa kesurupan dan kiki menangis
ketakutan
Mega : Apa, gara-gara aku. ini salah Sasa sendiri. Enak-enak
main kok dia malah tidur.
Uzan : Tapi kenapa kamu ajak kita untuk meninggalkan dia tidur
sendiri di sini?
Mega : Biar dia kapok. Lagian dia gak sportif. Waktunya jadi dia
malah tiduran. Tidak mau mencari. Apa kemudian kita
biarkan saja dia, sambil kita menunggu digigiti nyamuk.
Rio : Pokoknya, kamu harus bertanggungjawab. Kalau
ayahnya marah, aku tidak ikut-ikut
Uzan : Ya, kamu sendiri yang salah. Bukan kita.
Mega : Hai, kalian nyrocos saja, chicken you are! Pengecut kau!
Mereka terus berdebat. Sedang Kiki terus menangis dan Sasa sudah tidak ngomel lagi. Ia kembali tidur sambil mendengkur.
Uzan dan Rio terus tidak mau kalah. Ia terus menyalahkan Mega. Mereka mengolok-olok mega dengan nyanyian.
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau!
Don”t be chicken, jangan jadi pengecut kau!
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa”
Mega : Stop
DENGAN TERLIHAT MARAH, MEGA MEMBENTAK MEREKA. SPONTAN NYANYIANNYA BERHENTI
Mega : Teman, jangan lempar batu sembunyi tangan, ini masalah
kita bersama, seharusnya kita hadapi dengan kesatria.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Uzan : Ayahnya datang!
MEREKA BERLARIAN MENGISIS RUANG KOSONG DAN SALING BERTABRAKAN. MEREKA MENGADU KESAKITAN
Mega : Rasakan kalian pengecut. Itu adalah batunya orang yang
lempar sembunyi tangan.
Sasa tiba-tiba terbangun dan menceritakan mimpinya.
Sasa : Aku tadi tidur ya? Aku bermimpi bertemu dengan setan
gundul. Setan gundul itu lucu sekali. (mengamati
temannya yang kesakitan) Kenapa kalian mengerang
kesakitan? Jatuh karena lari ya. Kenapa, takut sama setan
gundul. Setan gundul alias tuyul itu imut, lucu.
Uzan : Hai, kucing, ini semua gara-gara kamu. Kamu merasa
bersalah tidak ?
Sasa : Apa salah saya?
Rio : Hai, kamu tadi tidur apa kesurupan?
Sasa : Yang jalas aku bermimpi bertemu dengan setan gundul
yang imut.
Uzan : Kamu sekarang sudah sadar belum? Jangan-jangan masih
mengigau
Mega : Ayo kita jiwiti dia
MEREKA BERSAMA-SAMA MENJIWIT SASA. SASA MENGERANG KESAKITAN
Mega : Ternyata dia sudah sadar. Tidak ngigau lagi
Rio : Jangan-jangan dia masih kesurupan
TIBA-TIBA SASA MENANGIS KARENA KESAKITAN
Kiki : Hayo hayo si Sasa menangis
Sasa mengerang menangis kesakitan. Mereka berdebat saling menyalahkan lagi.
Uzan dan Rio : Aduh, Mega lagi Mega lagi
Rio : Mega, kenapa kau selalu membuat ulah.
Uzan : Ya, tangan kamu banyak setannya. Selalu membuat
masalah.
Mega : Hai, dasar kalian otak keyong, kenapa kalian selalu
menyalahkan aku?
Rio : Siapa lagi kalau bukan kamu
Mega : Apa yang mencubit sasa tadi tangan saya sendiri?
Ucan : Tapi, kamu yang mengajak kan?
Mega : Dan kalian ikut kan?
Mereka kaembali berdebat sambil bernyanyi
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau
Don”t be chicken, jangan pengecut kau
Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
Mega : Stop, berhentiii! Aku muak dengan kepengecutan kalian!
Kiki : (berdiri) Kenapa orang besar sukanya bertengkar. Selalu
saja beranggapan dia yang paling benar. Kapan waktunya
untuk bermain, bersendah-gurau
Uzan : Kiki, diam sebentar!
Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
Uzan : Hai hai hai, sekali lagi diam!
Kiki : Apa semua masalah harus diselesaikan dengan
pertengkaran?
95. Rio : Kiki, diam, jangan banyak bicara!
96. Mega : Hai teman, dia punya hak untuk bicara
97. Uzan : Tapi dia masih kecil
98. Mega : Apa kalian sudah besar?
99. Rio : Tapi paling tidak kita lebih besar darinya.
100. Mega : Tetapi bisa jadi dia lebih pantas bicara dari pada kalian.
Kiki bergerak menjauh dari perdebatan. Ia mencari tempat untuk menyendiri. Dan bernyanyi sendiri.
101. Kiki : (bernyanyi)
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar
Sasa kemudian datang menghampirinya.
102. Sasa : Kiki, kenapa kamu bermain sendirian?
103. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
104. Sasa : Oh, jadi kamu bermain sendiri, karena yang lain pada suka
bertengkar. Kenapa mereka bertengkar?
105. Kiki : Ini gara-gara kamu.
106. Sasa : Ha, gara-gara aku, apa ya salah aku?(bingung) mereka
bertengkar gara-gara aku. Kiki, aku jadi bingung. Kiki,
apa salah aku?
107. Kiki : Cari sendiri!
108. Sasa : Ayo dong kiki, apa salah aku?
109. Kiki : Orang baik itu tahu kesalahan dan kekurangannya sendiri.
Lalu ia berusaha memperbaikinya.
Bertemu kembali dan meneruskan perdebatan
110. Mega : Sekarang ayo kita akhiri perdebatan kita.
111. Uzan : Tidak mau sebelum kamu mengaku bersalah
112. Mega : Apa, aku yang salah. Justru kalian yang bersalah
113. Rio : Hai hai hai… yang tadi mengajak untuk meninggalkan
Sasa itu siapa?
114. Mega : Kalian juga mendukung kan?
115. Uzan : Yang tadi mengajak untuk menjiwit Sasa siapa?
116. Mega : Kalian juga mendukung kan, ayo, masih menyalahkan
orang lain, masih tidak merasa bersalah, tetap lempar batu
sembunyi tangan!?
Mereka terus berdebat. Saling menyalahkan dan tidak mau saling mengakui kesalahannya.
117. Sasa : Oh oh oh… sekarang aku tahu kesalahanku. Ini semua
gara-gara aku. aku tidak sportif dalam permainan. Satu
keselahan kecil, akan menciptakan kesalahan-kesalahan
yang lebih besar. Aku baru sadar, perbuatan yang tidak
baik itu pasti membuat orang lain menjadi menderita.
Sasa kemudian berlarian meminta maaf pada teman-temannya.
118. Sasa : Minta maaf, minta maaf, minta maaf ya, aku minta
maaf….
119. Uzan : Hai diam. Kenapa kau berteriak-teriak?
120. Sasa : Minta maaf!
121. Rio : Kenapa meminta maaf?
122. Sasa : Aku bersalah
123. Uzan : Lihat Mega, Sasa saja mau minta maaf, lalu kamu
bagaimana? Kamu mau meminta maaf tidak?
124. Mega : Kamu sendiri bagaimana?
125. Uzan : Aku tidak bersalah, kenapa harus minta maaf
126. Rio : Ya, kita tidak bersalah, kita tidak perlu minta maaf
127. Mega : Dasar kepala batu, maunya yang paling benar.
128. Sasa : Orang-orang yang merasa dirinya sudah besar, mereka
selalu dirinya yang paling benar, padahal padahal mereka
adalah…… (berlari menggandeng tangan Kiki) Kiki Kiki
ayo kita bermain…
Sasa dan Kiki kembali bermain pung-pung balung. Sedang yang lain masih bertengkar, tidak mau damai. Kiki dan Sasa terus asyik bernyanyi. Mereka melanjutkan dengan nyanyian yek-uyrk ranti. Bergerak megal-megol seperti bebek.
TAMAT
Comments
Post a Comment