Naskah Teater Anak Bunglon Dan Kupu-Kupu

Bunglon dan Kupu-Kupu 




Sinopsis
Pada sebuah taman bunga, Kupu-Kupu berterbangan. Bunga-Bunga menyambut mesrah tarian Kupu-Kupu yang datang di pagi itu. Bunga dan Kupu-Kupu hidup saling menghargai dan menolong. Mereka hidup saling bergantung antar sesama. 
Di tengah kecerian isi taman. Ada dua ekor Bunglon yang sedang mengintai Kupu-Kupu yang sedang menari. Namun mereka tidak bisa menangkapnya. Dua Bunglon itu pun lalu bertengkar, saling menyalahkan. Mereka memutuskan untuk berpisah.
Bunglon besar bergerak lagi mengejar Kupu-Kupu yang sedang berterbangan. Bunglon Besar kehabisan tenaga, dan tidak bisa menangkapnya. Sedang Bunglon Kecil mengamati Kupu-Kupu yang sedang berterbangan. Ia mencari Kupu-Kupu yang lelah dan hinggap di atas ranting bunga. Bunglon Kecil berhasil menangkap Kupu-Kupu Kuning.
Kupu-Kupu Kuning berdo’a pada Tuhan agar diberi pertolongan. Pertolongan Tuhan pun datang. Bunglon Besar berusaha merebut Kupu Kuning dari tangkapan Bunglon Kecil. Bunglon Kecil pun langsung melepaskannya. Dan Kupu-Kupu Kuning terbang tinggi.
Bunglon-Bunglon itu bertengkar lagi

Setting
Pada taman bunga di pagi hari

Tokoh
1. Kupu-Kupu yang sedang hidup bersama saling menolong.
2. Bunga-Bunga yang senantiasa menyambut mesrah kehadiran Kupu-Kupu pada taman
3. Bunglon-Bunglon, binatang yang rakus, senantisa berusaha memangsa Kupu-Kupu. Dan sukanya bertengkar antar sesama Bunglon.





























Bunglon dan Kupu-Kupu di Taman Bunga
Karya : rodli tl.



Adegan Satu
Kupu-Kupu berterbangan di taman. Mereka menari dan menyanyi

1. Kupu-Kupu : Kini kami yang terbang
Riangkan bunga-bunga
Yang mulai berkuncup mekar

2. Bunga-Bunga : Kupu-Kupu, selamat datang!
Ayo hinggaplah padaku 
Ku kan berikan sari madu 

Kupu-Kupu berterbangan sedang bunga-bunga menggapai-gapai
merayu Kupu-Kupu
lambaikan senyum yang merdu

3. Bunglon Besar : Ohoi, kamilah para Bunglon
Hidup kami yang melata 
tak halangi tuk memangsa 

4. Para Bunglon : Klesat-klesot gerak kami pada tanah 
Tapi kadang sampai pada pucuk cemara

Klesat-klesot gerak kami mengendap-endap
Memangsa belalang, Kupu-Kupu hap hap

Mangsa kami tak mengira
bahwa kami berada dibalik rerumputan, menempel pada batang pohon

Berubah-berubah,itulah warna kami 
menyerupai benda-benda yang kami singgahi

bunglon itu lalu pergi bersembunyi
bunga-bunga mekar bermunculan menyambut Kupu-Kupu yang terus berterbangan dan kadang-kadang hinggap pada pohon dan bunga-bunga

5. Bunga-Bunga : Wahai Kupu-Kupu, pagi ini sungguh kami merasa 
riang karena kalian tak pernah bosan bertandang 
kemari
6. Kupu-Kupu : Kami akan merasa merindukanmu para bunga, 
bukankan kami sedikit memilki hidup yang 
bergantung pada kalian? 
7. Bunga Mawar : Bungaku terasa layu bila sepagi tak ada hadirmu 
wahai temanku Kupu-Kupu
8. Kupu Putih : Juga sayapku seakan terkulai kalau tah sentuh sari-
sarimu
9. Bunga Mawar : Benarkah ucapanmu wahai temanku
10. Kupu Kuning : Pernahkah kami bohongi kalian wahai bunga-
bunga yang indah
11. Bunga Melati : Kalian memang teman yang baik tak pernah 
menyakiti sesama apalagi berkata bohong.
12. Kupu Merah : Kita berharap terus untuk berbuat baik dan selalu 
berkata yang jujur. Karena kebaikan dan kejujuran 
membuat hidup menjadi indah dan damai. Kita 
akan selalu menjaga cinta kasih dan saling 
menolong.
13. Bunga Bougenvil : Begitu sebaliknaya, menyakiti sesama adalah 
perbuatan yang amat merugi bagi diri sendiri. 
akan tak memiliki teman yang mau diajak bermain 
apalagi menolong dikala membutuhkannya. 
Bohong di hari depannya penuh dengan sesal 
karena semua menjauhinya.
14. Kupu Hitam : Mungkin perjamuan ini bisa kita lanjutkan esok 
pagi. Selamat tinggal sampai bertemu dikala surya 
menghangatkan isi taman ini
15. Bunga Matahari : Bersama embun yang usai mandikan dedaunan dan 
bunga-bunga kami ucapkan selamat jalan 
16. Bunga-Bunga : Sampaikan salam kami pada setiap apapun yang 
kalian jumpai dan kalian singgai. Salam canda-
tawa hidup riang nan damai.

Kupu-Kupu berterbangan meninngalkan bunga-bunga yang melambaikan daunya tertiup angina

Adegan Dua
Bunglon-bunglon bermunculan dari persembunyiannya 

17. Bunglon Besar : Bodoh, bodoh hari ini kita amat bodoh. Kita terlalu 
banyak perhitungan untuk menangkapnya
18. Bunglon Kecil : Aku pikir itu harus kita lakukan. Kita akan 
menjadi lebih ceroboh kalau tak hati-hati
19. Bunglon Besar : Bukankan kita sudah perpengalaman berpuluh-
puluh tahun untuk menangkap Kupu-Kupu
20. Bunglon Kecil : maksud kamu kemudian kita sudah lihai dalam 
memangsanya
21. Bunglon Besar : Tentunya begitu dong
22. Bunglon Kecil : Perlu kita ingat mereka Kupu-Kupu hidupnya 
` tidak hanya di taman ini saja, mereka banyak 
bergaul dengan makluk hidup lain. Tentunya ]
semakin lama mereka semakin pandai, apalagi 
hanya menghindari dari jebakan-jebakan kita. Aku 
yakin mereka telah banyak belajar dari 
pengalaman nenek-moyangnya dan tentunya di 
tambah dengan pengalaman-pengalaman baru yang 
mereka dapatkan dari lingkungan sekitar.
23. Bunglon Besar : Halaaaa, omomng kosong! Nyatanya kita tidak 
berhasil menangkapnya
24. Bunglon Kecil : Hari ini kita tidak berhasil, lalu kita belajar dari 
kegagalan. Besok kegagalan itu tidak akan 
terulang. Akan tetapi kalau kita tak terpelajar, 
hanya landasan pokoknya menangkap, kita akan 
selamanya tidak akan behasil.Ingat keberhasilan 
itu didapatkan kalau ada usaha belajar yang 
sungguh-sungguh
25. Bunglon Besar : Sudah diam, aku tak mau mendengarkan kata-kata 
mutiaramu lagi. Aku pergi

(pergi diiringi musik)

(satu persatu bunglon itu pergi)

Adegan Tiga
Bunglon Besar termangu sendiri di tinngalkan bunglon-bunglon yang lain 

26. Bunglon Kecil : Beginilah kehidupan kami para Bunglon, selalu tak 
mau berfikir panjang, dan selalu suka bertengkar. 
Makanya kalian akan sulit menemukan kami hidup 
bergerombol seperti Kupu-Kupu, Burung, Ikan, 
Semut dan binatang- binatang yang lain. Hidup 
kami suka menyendiri atau paling banyak adalah 
sepasang. Karena hidup bersama dengan sesama 
selalu menghadirkan pertengkaran- pertrengkaran.
27. Bunga-Bunga : ( bernyanyi)
Inilah bunga warna-warni berkuncup
membangunkan matahari
Embun-embun bercengkrama
pada rerumputan

28. Bunglon Kecil : (bernyanyi)
Klesat klesot hap hap
Klesat klesot hap hap
Klesat klesot hap hap


29. Kupu Kuning : (bernyanyi)
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Lepaskan aku, aku ingin terbang menghias taman!
30. Bunglon Kecil : Kulitku lebih indah dari tarian sayap-sayapmu
Aku tidak membutuhkan indah warnamu
31. Kupu Kuning : Alangkah indah kalau taman ini kita hias bersama. 
Kau hiasi batang, cabang dan ranting pepohonan 
dengan keindahan kulit dan tajam matamu. Kau 
mainkan musik dedaunan yang mulai mengering 
dengan suara-suara lompatanmu
32. Bunglon Kecil : Aku tak butuh bujukanmu, semanis apapun kata-
katamu tidak akan menggerakkan hatiku untuk 
mengurungkan menikmati lezatnya dagingmu 
ketika berada dimulutku
33. Kupu Kuning ` : (bernyanyi)
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Biarkanlah aku terbang, aku ingin menghias taman


34. Bunglon Kecil : Jangan kau berteriak-teriak. Kau tak kan bisa lepas 
dari tangkapanku, sebelum kau ku masukkan ke 
dalam perutku. Aku beri kesempatan kau untuk 
berdo’a pada Tuhan
35. Kupu Kuning : (berdo’a) Tuhan kalau aku harus menghadapMu 
hari ini. Berikanlah cara yang terbaik untuk 
kembali kepadaMu. Tapi Tuhan, kalau kehidupan 
itu masih baik untukku maka berilah kekuatan 
kami untuk mampu bertahan dalam menghadapi 
ujian ini 

Adegan Empat
Tiba-tiba segerombolan Kupu-Kupu datang berterbangan beriring-iringan dengan bunglon-bunglon yang mengendap-endap

36. Kupu-Kupu : (bernyanyi) 
Kupu-Kupu berterbangan.
Sayapnya indah
bentuk tubuh yang sintal.
Wahai bunglon, tak tertarikkah kalian memangsa 
Kami


37. Beberapa Kecil : Wahai Kupu-Kupu teruslah bernyanyi. Sebentar 
lagi kalian akan Tertangkap, dan kami akan 
memakan kalian tak tersisakan
38. Para Bunglon : (bernyanyi)
Ohoi kamilah para Bunglon
Hidup kami yang melatah
tak halangi tuk memangsa
jenis serangga yang berterbangan

klesat-klesot gerak kami pada tanah
tapi kadang sampai pada pucuk cemara

39. Kupu-Kupu : Ayo kejarlah kami. Kami yakin kalian tak bisa 
menagkap kami. Hidup kami tebang, sedang kau 
melata
40. Bunglon-bunglon : Jangan sombong pasti kami menangkap kalian
41. Kupu-Kupu : Terbanglah terbanglah kalau kalian bisa sepertiku

Bunglon Kecil teperangah melihat banyak Kupu-Kupu berterbangan menari-nari di udara
Beberapa saat kemudian Kupu-Kupu itu sudah lenyap dari pandangannya

Satu-persatu bunglon bertemu dan menghampiri bunglon yang sedang membawa mangsanya

42. Bunglon Besar : Ternyata pandai kau menipu. Kau tak mau ikut 
bersama kami Lantaran kau mau mengambil 
kesempatan pada kesempitan kami. Kami yang 
mengejar mangsa dari satu pohon ke pohon yang 
lain, lalu kau yang menagkapnya untuk kau 
nikmati sendiri
43. Bunglon Kecil : Jangan kalian berprasangka buruk padaku. Kupu 
Kuning ini aku tangkap bukanlah dari 
segerombolan Kupu-Kupu yang kalian kejar. Aku 
telah menangkapnya sebelum segerombolan Kupu-
Kupu itu melintas pada taman ini.
44. Bunglon Besar : Kau jangan mungkir. Sekarang serahkan kupu 
kuning ini pada kami
45. Teman Bunglon : Ayo serahkan cepat! daripada kami akan 
melukaimu
46. Bunglon Kecil : Kalau kalian menginginkannya. Inilah kupu 
kuning ini aku lepas dan tangkaplah kalau kalian 
menginginkannya
Bunglon Kecil melepaskan kupu kuning lalu terbanglah kupu kuning itu ke udara.
Mereka para Bunglon mengamati kupu kuning menari diangkasa lalu di ikuti Kupu-Kupu lain.

47. Bunglon Besar : Kau belum pandai! Mengapa kau lepaskan kupu 
kuning itu?
48. Bunglon Kecil : Kalian sendiri yang belum pandai, tak bisa 
menagkap Kupu-Kupu yang sudah tak bertenaga 
untuk terbang dari kejaran kalian.
49. Bunglon Besar : Tenaga Kupu-Kupu itu kembali pulih karena ia 
beristirahat dalam cengkeramanmu. Sebagai 
gantinya maka kau yang akan menjadi mangsaku 
50. Bunglon Kecil : Tangkaplah aku kalau kamu merasa yang paling 
berkuasa

Bunglon-bunglon itu terus berkejaran akan tetapi si bunglon kecil selalu bisa mengecoh dan mentertawakannya.

Bunglon besar beserta temannya semakin marah dan semakin lama ia kehabisan tenaga.

51. Bunglon Kecil : Ayo tangkaplah kalau kamu merasa kuat dan 
berkuasa. Ternyata amarahmu manangkapku tak 
didukung dengan tenaga yang kuat. Kau tenyata 
juga lemah, lalu kenapa selalu sombong. Ayo 
tangkaplah wahai bunglon berbadan besar tapi 
bertenaga cindil. Ayo tangkaplah aku dan 
santaplah dagingku sebagai ganti daging Kupu-
Kupu itu!

Bunglon Kecil terus mentertawakan Bunglon Besar dan teman-temannya.
Bunga-bunga pun tersenyum melihat kelakuan para bunglon.

52. Bunga-Bunga : (bernyanyi)
Wahai para bunglon
Janganlah berterngkar

Wahai para bunglon
Janganlah berbohong

Hiduplah saling berteman
Hiasi hidup bergandeng tangan

Kupu-Kupu berdatangan bersorak-sorai menari
Tamat

Comments

Popular posts from this blog

Naskah Teater Dwi Sri

naskah drama anak-anak MOMO YANG RAKUS (Naskah Drama)